Andi Didakwa Rugikan Negara Rp 6,5 Miliar Aneh, Sidang Perdana Dimajukan Pagi-Pagi


http://harianrakyatbengkulu.com/

Posted by redaksi on February 9th, 2011

BENGKULU – Pelaksana Harian (Plh) Kadis PU Provinsi BeAndngkulu,Andi i Rosliansyah, ST, SE (49) Selasa (8/2) kemarin menjalani sidang perdana kasus dugaan korupsi proyek Pemeliharaan Jalan Bintunan – Ketahun dan Jembatan Provinsi Bengkulu Tahun 2008 senilai Rp 7,3 miliar di Pengadilan Negeri (PN) Bengkulu.

Sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan ini mengundang kecurigaan wartawan. Sebab, secara mendadak sidang yang dijadwalkan pukul 09.15 WIB itu, tiba-tiba dimajukan pagi-pagi pukul 08.30 WIB. Sehingga sejumlah wartawan sempat terkecoh.

Versi Humas Pengadilan Negeri Bengkulu, Bambang Eka Putra, SH, MH didampingi Pansek, Bakri Ali, SH, persidangan digelar cepat bukan lantaran hendak mengelabui wartawan. Melainkan mempertimbangkan permintaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Agus Irawan, SH, MH yang harus tugas dinas ke Jakarta hari itu juga. ‘’Jadi tidak benar kalau sidang digelar sembunyi-sembunyi,’’ kata Bakri dijumpai RB di ruang kerjanya kemarin.

Merujuk pada dakwaan JPU, terdakwa selaku Pemimpin Pelaksana Kegiatan (PPK) bersama-sama Marfian Cahya selaku Direktur PT Kurnia Tani Teladan dan Rasjid selaku kuasa pelaksana pekerjaan (perkara dipisah) didakwa melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri sehingga mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 6,5 miliar. Sebagaimana hasil audit BPKP Deputi Bidang Investigasi Jakarta.

Dimana proyek ini sesuai Surat Kontrak Kerja Nomor : KU.08.08/518/PJJ/2008 tanggal 25 Januari 2008 yang ditandantangani terdakwa dan Marfian Cahya bahwa pekerjaannya dilakukan PT Kurnia Tani Teladan. Selaku pelaksana pekerjaan, Marfian menguasakan pekerjaan kepada Rasjid dengan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan dari tanggal 25 Januari 2008 sampai 22 Juli 2008 dengan volume pekerjaan 3500 meter.

JPU juga menilai sejak tahap pelelangan sudah curang. Terdakwa sengaja memenangkan PT Kurnia Tani Teladan dalam pengumuman lelang dengan tujuan mengambil keuntungan di balik pengerjaan proyek ini. Pembukaa lelang itu sendiri diumumkan melalui media cetak November 2007, saat itulah terdakwa menelepon Marfian dan menyuruhnya mendaftarkan perusahaannya dalam pelelangan proyek ini.

Selain itu, terdakwa juga dinilai terlalu jauh mencampuri tugas panitia pengadaan barang dan jasa sehingga tidak bisa menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya. Bahwa pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai kontrak. Hingga batas waktu pekerjaan berakhir, yakni 22 Juli 2008 volume pekerjaan masih 0 %. Bahkan hingga 3 kali dilakukan perubahan (addendum kontrak) volume pekerjaan masih nihil. Namun terdakwa melakukan pencairan anggaran.

Ulah terdakwa terancam hukuman 20 tahun penjara dengan jeratan pasal berlapis. Dalam dakwaan primair, terdakwa dijerat pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 ayat (1) huruf b ayat (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sedangkan dalam dakwaan subsidair, dijerat pasal 9 undang-undang yang sama jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Usai pembacaan dakwaan, terdakwa melalui tim penasihat hukumnya Sahril Harun, SH tidak mengajukan eksepsi alias tidak keberatan dengan dakwaan JPU. Tidak diketahui pasti, apakah terdakwa memang sudah merasa dakwaan JPU tepat atau tidak punya pilihan. Atas sikap terdakwa, majelis hakim yang diketuai Firdaus, SH, MH dengan hakim anggota A Sumardi, SH, M.Hum dan Surono, SH, MH menyatakan sidang dilanjut Selasa (15/2) mendatang dengan agenda keterangan saksi. (sca)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s