Hakim Ancam Tahan Hamsyir Lair


http://harianrakyatbengkulu.com/?p=591

Posted by redaksi on February 9th, 2011
BARANG BUKTI: Inilah tumpukan uang yang diserahkan Drs. H. Chairuddin kepada ajudan Gubernur, Nuim Hidayat di Hotel Darmawangsa. Foto penyerahan uang inilah yang sempat ditunjukkan Chairuddin kepada hakim.JAKARTA – Sidang lanjutan dugaan korupsi Dana Bagi Hasil (DBH) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) senilai Rp 21,3 miliar semakin seru. Sidang Selasa (8/2) kemarin mengagendakan pemeriksaan 4 orang saksi yang diajukan terdakwa yakni Sekda Provinsi Drs. H. Hamsyir Lair, Kepala Bappeda Ir. HM. Nashsyah, MT, Kepala Balitbang Provinsi Ir. Yuspiq Rizal dan sopir Chairuddin, Rajab. 

Yang menarik, saat pemeriksaan saksi Hamsyir Lair, hakim ketua, Syarifuddin sempat emosi. Itu lantaran, Hamsyir Lair banyak menjawab tidak tahu atas pertanyaan yang diajukan hakim. Bahkan, hakim sempat mengingatkan Hamsyir Lair bahwa sebagai saksi dia bisa ditahan apabila memberikan keterangan palsu.

“Anda jangan terus menjawab dengan tidak tahu. Saksi sudah disumpah. Kalau dikemudian hari diketahui jawaban saudara tidak benar, saya bisa perintahkan JPU melakukan penahanan terhadap Anda karena memberi keterangan palsu,” sergah Syarifuddin.

Ancaman penahanan itu dilontarkan Syarifuddin karena geram dengan jawaban-jawaban Hamsyir Lair. Karena pertanyaan yang diajukan banyak dijawab tidak tahu.

Tapi meski sudah diingatkan, Hamsyir tetap saja menjawab tidak tahu. Alasannya, dia memang tidak tahu atas pertanyaan yang diajukan. “Saya kan tidak bisa memberi keterangan atas apa yang saya tidak ketahui Yang Mulia, itu memang tidak saya ketahui,” ujar Hamsyir.

Pertanyaan yang diajukan kepada Hamsyir antara lain menyangkut usulan untuk percepatan pembangunan di Provinsi Bengkulu, apakah perlu jenjang persetujuan tertentu, atau bisa langsung disetujui Gubernur. Tapi Hamsyir mengaku tidak tahu.

Mendengar hal itu, hakim bertambah kesal. “Ini saksi modelnya memang seperti ini, tidak tahu, tidak ingat dan lupa, sehingga memberikan resume, tidak mau tahu, begini ini modelnya saksi,” kesal Syarifuddin.

Tapi Hamsyir sempat mengatakan, bahwa untuk membentuk tim percepatan pembangunan harus berdasarkan SK Gubernur dan Gubernur menjadi penanggungjawab. Sedangkan menyangkut pengembalian dana bagi hasil ke kas negara dari beberapa investasi di BUMD, Hamsyir tidak ingat.

Inisiatif Chairuddin

Sementara itu, Kadishubkominfo Provinsi, Ir Ali Berti yang menyaksikan proses persidangan juga mengungkapkan dalam kesaksian Sekda Bengkulu kemarin menjelaskan bahwa pembukaan rekening BRI untuk menampung DBH, PBB-BPHTB merupakan inisiatif Chairudin. “Pembukaan rekening BRI bukanlah berdasarkan hasil rapat,” jalas Ali.

Selanjutnya Ali mengatakan setelah diketahui Chairuddin membuka rekening BRI, Sekda Provinsi memanggil Chairuddin untuk membuat pernyataan akan segera mengembalikan uang Rp 21,3 milliar ke dalam kas daerah. “Selanjutnya barulah Chairuddin mengembalikan uang tersebut,” tambah Ali.

Ia juga menjelaskan terkait kesaksian Nashsyah terkait pertanyaan JPU mengenai pengadaan alat berat PU, Nashsyah menejalaskan pengadaan alat berat pada tahun 2008 lalu sudah berdasarkan prosedural. Tidak seperti yang dituduhkan selama ini. “Pengadaan salat berat PU sudah masuk dalam APBD,” tandas Ali.

Mengenai ancaman hakim untuk menahan Hamsyir Lair, Ali Berti mengatkan pernyataan majelis hakim akan menahan saksi, diucapkan bukan hanya kepada Hamysir, tapi juga kepada semua saksi-saksi yang diperiksa. “Chairuddin sebelum memberikan kesaksian juga diingatkan akan ditahan kalau memberikan keterangan palsu. Jadi bukan hanya Pak Sekda saja. Semua saksi sebelum memberi keterangan diingatkan terlebih dulu oleh majelis hakim,” pungkas Ali. (ble)

PH: Keterangan Saksi Ringankan Agusrin

Sementara itu, Penasehat Hukum (PH) terdakwa Agusrin M Najamudin, Marten Pongrekun SH berpendapat keterangan 4 saksi yang dihadirkan dalam sidang kemarin telah meringankan dakwaan terhadap Agusrin.

“Semua keterangan saksi-saksi yang dihadirkan tadi semuanya bagus-bagus. Dan menurut saya tidak memberatkan Agusrin. Selain itu menurut saya apa yang disampaikan oleh saksi tadi tidak mengada-ada atau apa adanya. Karena saksi-saksi sudah disumpah sebelumnya,” terang Marten.

Dikatakan Marten, dari beberapa keterangan keempat saksi tersebut terdapat beberapa point penting. Diantaranya menjelaskan bahwa pembukaan rekening BRI untuk menampung dana DBH, PBB-BPHTB merupakan inisiatif Chairuddin yang saat itu masih menjabat sebagai Kadispenda Provinsi. Seperti yang disampaikan oleh Hamsyir, ia tidak mengetahui kalau Chairuddin menambah pembukuan rekening.

“Pembukuan rekening baru diketahui ketika Gubernur meminta Bawasda (Badan Pengawas Daerah) untuk melakukan pemeriksaan. Dari pemeriksaan Bawasda itulah diketahui Chairuddin membuka rekening atas inisiatif dia sendiri,” jelas Marten.

Mengetahui pembukaan rekening tersebut, Agusrin sebagai Gubernur meminta Chairuddin untuk segera mengembalikan uang sebesar Rp 21,3 miliar tersebut. Sekaligus menutup rekening yang telah dibukanya. “Uang tersebut sudah dikembalikan ke rekening kas daerah. Jadi tidak ada uang negara yang dirugikan. Malahan berdasarkan investasi modal, uang tersebut berlebih,” jelasnya.

Dia juga membenarkan dalam Hamsyir banyak menyatakan lupa saat memberikan keterangan kepada majelis hakim. Namun demikian menurutnya tidak banyak begitu masalah. “Sayangnya tadi saksi Hamsyir banyak yang lupa, tapi tidak masalah,” tandas Marten. (ble)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s