Mental para pejabat kita


Harian Kompas memberitakan hampir semua gubernur di Indonesia tersangkut kasus korupsi. Dari 33 provinsi hanya lima gubernur yang tidak terjerat perkara hukum. Pengamat korupsi Emmy Hafild menyatakan tidak begitu kaget dengan temuan tersebut. Korupsi memang menjadi masalah utama di daerah.

Tapi, Hafild cukup kaget mengetahui bahwa hanya lima gubernur ‘bersih’ di Indonesia. Apa penyebab maraknya korupsi yang dilakukan oleh kepala daerah ini?

Emmy Hafild tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan maraknya korupsi di daerah dikarenakan sistem pemilihan kepala daerah langsung yang sekarang diterapkan di Indonesia. “Dengan pemilihan tidak langsung pun korupsi akan ada,” kata Emmy.

Masalah mental
Menurut Emmy Hafild, penyebab maraknya kasus korupsi yang dilakukan oleh kepala daerah di Indonesia berkaitan dengan mental kepala daerah itu sendiri dan juga masyarakat.

“Orang yang menjadi kepala daerah harus bisa memberikan ‘penghidupan’ kepada para pendukungnya. Ia kemudian memberikan proyek, memberikan akses dan lain sebagainya kepada orang-orang di sekitarnya,” jelas Emmy.

‘Tuntutan’ ini menjadi pangkal terjadinya berbagai praktek melanggar hukum untuk memperkaya diri sendiri.

Masyarakat sendiri juga punya andil dalam pembentukan mental korupsi. Misalnya, Emmy Hafild memberi contoh, “pejabat itu kan sering dimintai sumbangan ini itu. Untuk masjid, untuk gereja kalau dia Kristen dan lain sebagainya.” Sumbangan juga sering diminta oleh keluarga dan teman-teman.

Selain itu, tuntutan bahwa seorang pejabat harus hidup mewah juga menjadi berpengaruh dalam pembentukan mental korup.

Seleksi calon
Faktor penting lain yang menyebabkan munculnya berbagai korupsi oleh kepala daerah, menurut Emmy Hafild, adalah lemahnya sistem seleksi calon kepala daerah. “Terutama untuk pemilihan bupati, track record calon, apakah ia bersih atau tidak, belum menjadi syarat bagi pemilih untuk menentukan suara mereka,” kata Emmy.

Masyarakat juga masih sering gampang terpesona terhadap para calon yang ‘royal’, suka memberi berbagai sumbangan. Hal ini menyebabkan lemahnya sistem seleksi terhadap para calon kepala daerah. “Walau calon itu terlibat mafia dan macam-macam, orang tetap saja memilih mereka,” jelas Emmy.

http://www.rnw.nl

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s